Well, adalah nyata bahwa Tuhan bisa saja menguji kita dengan hal apapun, tanpa menunggu apakah kita siap menghadapinya. Jika kita memperhatikan pemberitaan di media belakangan ini yang cenderung ramai dengan beragam kasus kecelakaan, pastinya jadi miris di hati. Kecelakaan bisa menimpa siapa saja dalam kondisi apapun juga; mulai yg naik mobil, naik bis, bersepeda motor atau sepeda biasa bahkan yang sedang berjalan kaki di pinggir jalan, semua berkemungkinan sama untuk menjadi korban kecelakaan. Entah kita sedang mau main kemana, habis dari mana, mau pulang ke rumah, sekedar berada di tempat yang setiap harinya kita bekerja di tempat itu, atau besok mau ujian, mau menikah, mau melahirkan, dsb.. Semua itu ternyata tidak akan merubah atau mengurangi kesempatan kita untuk mendapatkan ujian dari Tuhan.
Jika memang demikian, sebenarnya apa yang kita takutkan..? yang terjadi adalah sesuatu yang memang pasti terjadi. Entah kemudian dengan cara bagaimana manusia mereka-reka penyebabnya untuk mendapat justifikasi atas itu. Tapi kenyatannya berjalan sebagaimana apa-apa yang memang sudah ditetapkan.. dan pastinya, bukan sekedar logika musibah yang mengikuti pola itu, logika tentang rizki dan kebahagiaan tentu saja berlaku hal yang sama, bahwa semua telah diatur sedemikian rupa..
Tidak perlu mempertanyakan peran kita sebenarnya apa dalam hidup kita, jika segalanya telah tertata. Memang hak Tuhan untuk mengaturnya. Justru tantangan terberatnya adalah mengatur rasionalitas kita agar tidak merasa bahwa semua yang terjadi adalah atas kita,
Ironisnya adalah, jika logika keberuntungan dan musibah ini digunakan sebagai pembenaran pada kasus-kasus yang terjadi karena konsekuensi dari keputusan dan pilihan kita. Misalnya, pada banyak kasus korupsi, pelaku seringkali menarik simpati dengan meminta dukungan agar bisa melalui “cobaan”–(pemeriksaan kepolisian dan penahanannya); atau orang yang setelah mabok dan menabrak sekian banyak orang, bilang sedang mendapat “cobaan”; atau orang-orang yang setelah melakukan plagiat dan kemudian mendapat konsekuensinya menyatakan bahwa mereka sedang mengalami “cobaan” . Well, apakah yang sedemikian itu bisa dikategorikan cobaan–yang juga telah diatur dalam takdir?i don’t think so! Bagaimana menurut Anda?
Yang saya yakini, Tuhan telah menciptakan alam dengan segala kelimpahannya, menetapkan aturan atas apa-apa yang baik dan tidak, melengkapi manusia dengan akal pikiran untuk mengendalikan kehidupannya. Jika manusia salah memilih melakukan hal-hal yang tidak baik dan menerima konsekuensi logis atas itu, apakah yang seperti itu disebut cobaan?
Mungkin kuncinya sesimpel: hiduplah dengan baik! Baik sesuai dengan apa yang diatur Tuhan pastinya.. Bahwa apapun yang akan terjadi dalm kehidupan kita pastilah telah terencana. Tidak perlu takut atau khawatir. Selagi kita masih selalu mendengarkan nurani kita untuk selalu melakukan hal-hal baik dan menjaga dari apa-apa yang tidak baik,. apapun yang terjadi, semoga menjadi hal yang baik.
Dear problems yang belakangan lebih sering menyapa..
akhirnya saya belajar, bahwa masalah datang sepaket dengan solusinya, .. dan solusi tidak selalu seperti apa yang kita pikir atau rencanakan. solusi pun tidak selalu ideal seperti apa yang harusnya terjadi. Misalnya ketika banyak tagihan datang setelah banyak dana yang tersedot untuk biaya rumah sakit, solusi bisa saja merupa keberanian untuk mengangkat telp-telp yang masuk dan meminta waktu untuk bisa membayar, atau merupa keberanian untuk meminjam kepada orang lain dan dimudahkan Alloh untuk pinjaman, hehe.. :p Apapun, utamanya adalah untuk kebaikan. Semoga diridloi..