Absurd..

March 2012,.. how time really flies

Sepertinya baru kemaren tahun baru dirayakan, ternyata sudah masuk bulan ketiga tahun 2012 ini.. Sedemikian banyak hal yang terjadi; yang diupayakn terjadi; yang dipikirkan untuk diwujudkan dan segala konsekuensi atas pilihan-pilihan sebelumnya yang berusaha diselesaikan, semuanya menyesaki waktu demi waktu. Seperti terhimpit diantara semuanya.. dan ketika sesekali tersadar menatap penanda waktu, anehnya seolah kita seperti terkejut dengan sebegitu banyak yang telah terlalui.

“Demi masa”

Bukankah manusia terlalu sibuk mengurusi setiap hal? segala objek dan segala yang “sepertinya” memang penting untuk dipikirkan? Bangun pagi sudah dikejar kekhawatiran untuk bisa memenuhi tuntutan di hari itu, menyusun mana yang sebaiknya dikerjakan dan sepertinya tidak ingin melewatkan semua yang terencana dan yang “seharusnya” dilaksanakan.

Kehidupan yang seperti ini..

sebenarnya demi mengejar apa? kita mengarah kemana? Bagaimana jika setelah semuanya, yang ada hanya kesia-siaan? Bagaimana jika ternyata bukan in semua yang diterima sebagai “kebaikan”?

sungguh manusia adalah makhluk yang merugi..

..

well, ini bukan luapan skeptisisme.. masih tetap optimis kok! Hanya merasa, bahwa hidup itu harusnya nikmat. Merasa hidup adalah mampu merasai hidup. Manusia itu.. bukan mesin, jadi jangan mematikan rasa-rasa kemanusiaan. Jangan terlalu saklek, tidak perlu terlalu keras memegangi kehidupan. ya tho?

Life is [somehow.. ] not something to worry about

Image 

Well, adalah nyata bahwa Tuhan bisa saja menguji kita dengan hal apapun, tanpa menunggu apakah kita siap menghadapinya. Jika kita memperhatikan pemberitaan di media belakangan ini yang cenderung ramai dengan beragam kasus kecelakaan, pastinya jadi miris di hati. Kecelakaan bisa menimpa siapa saja dalam kondisi apapun juga; mulai yg naik mobil, naik bis, bersepeda motor atau sepeda biasa bahkan yang sedang berjalan kaki di pinggir jalan, semua berkemungkinan sama untuk menjadi korban kecelakaan. Entah kita sedang mau main kemana, habis dari mana, mau pulang ke rumah, sekedar berada di tempat yang setiap harinya kita bekerja di tempat itu, atau besok mau ujian, mau menikah, mau melahirkan, dsb.. Semua itu ternyata tidak akan merubah atau mengurangi kesempatan kita untuk mendapatkan ujian dari Tuhan.

Jika memang demikian, sebenarnya apa yang kita takutkan..? yang terjadi adalah sesuatu yang memang pasti terjadi. Entah kemudian dengan cara bagaimana manusia mereka-reka penyebabnya untuk mendapat justifikasi atas itu. Tapi kenyatannya berjalan sebagaimana apa-apa yang memang sudah ditetapkan.. dan pastinya, bukan sekedar logika musibah yang mengikuti pola itu, logika tentang rizki dan kebahagiaan tentu saja berlaku hal yang sama, bahwa semua telah diatur sedemikian rupa..

Tidak perlu mempertanyakan peran kita sebenarnya apa dalam hidup kita, jika segalanya telah tertata. Memang hak Tuhan untuk mengaturnya. Justru tantangan terberatnya adalah mengatur rasionalitas kita agar tidak merasa bahwa semua yang terjadi adalah atas kita, 

Ironisnya adalah, jika logika keberuntungan dan musibah ini digunakan sebagai pembenaran pada kasus-kasus yang terjadi karena konsekuensi dari keputusan dan pilihan kita. Misalnya, pada banyak kasus korupsi, pelaku seringkali menarik simpati dengan meminta dukungan agar bisa melalui “cobaan”–(pemeriksaan kepolisian dan penahanannya); atau orang yang setelah mabok dan menabrak sekian banyak orang, bilang sedang mendapat “cobaan”; atau orang-orang yang setelah melakukan plagiat dan kemudian mendapat konsekuensinya menyatakan bahwa mereka sedang mengalami “cobaan” . Well, apakah yang sedemikian itu bisa dikategorikan cobaan–yang juga telah diatur dalam takdir?i don’t think so!  Bagaimana menurut Anda? 

Yang saya yakini, Tuhan telah menciptakan alam dengan segala kelimpahannya, menetapkan aturan atas apa-apa yang baik dan tidak, melengkapi manusia dengan akal pikiran untuk mengendalikan kehidupannya. Jika manusia salah memilih melakukan hal-hal yang tidak baik dan menerima konsekuensi logis atas itu, apakah yang seperti itu disebut cobaan?

Mungkin kuncinya sesimpel: hiduplah dengan baik! Baik sesuai dengan apa yang diatur Tuhan pastinya.. Bahwa apapun yang akan terjadi dalm kehidupan kita pastilah telah terencana. Tidak perlu takut atau khawatir. Selagi kita masih selalu mendengarkan nurani kita untuk selalu melakukan hal-hal baik dan menjaga dari apa-apa yang tidak baik,. apapun yang terjadi, semoga menjadi hal yang baik.

 

Dear problems yang belakangan lebih sering menyapa..

akhirnya saya belajar, bahwa masalah datang sepaket dengan solusinya, .. dan solusi tidak selalu seperti apa yang kita pikir atau rencanakan. solusi pun tidak selalu ideal seperti apa yang harusnya terjadi. Misalnya ketika banyak tagihan datang setelah banyak dana yang tersedot untuk biaya rumah sakit, solusi bisa saja merupa keberanian untuk mengangkat telp-telp yang masuk dan meminta waktu untuk bisa membayar, atau merupa keberanian untuk meminjam kepada orang lain dan dimudahkan Alloh untuk pinjaman, hehe.. :p Apapun, utamanya adalah untuk kebaikan. Semoga diridloi..

 

Next year or.. whenever??

Pembicaraan tentang studi lanjut S3 adalah salah satu tema yang lumayan sering diperbincangkan dalam setahun terakhir ini di lingkunganku; di kampus, diantara temen-temen (Yearry, Alfa, Rizal, …) dan juga di rumah. Hampir tiap hari rasanya adanya saja pertukaran nfo tentang beasiswa, universitas mana, penulisan ilmiah, proposal desertasi, TOEFL, IELTS, GRE, bla bla bla.. Hihi, lucunya Akka pun ikut-ikutan sering bertanya, kapan Ibuk Uis akan berangkat sekolah keluar negeri, karena dia pun sudah merencanakan banyak hal sendiri terkait dengan itu.

Sedemikian seringnya jadi pembicaraan, sepertinya hal itu menjadi semakin penting saat ini. Tanpa sadar persiapanku sendiri pun sudah kumulai..

Berbicara dengan suami bisa jadi langkah dasar semuanya ya? Karena pastinya ini akan sangat berpengaruh terhadap banyak hal operasional di keluargaku. Sayangnya, dia pun sudah sangat sangat mendorongku untuk segera melangkah, membantuku memilih ke negara mana sebaiknya aku (kami) akan pergi, sampai hal-hal detail tentang bagaimana anak-anak nantinya.–thanks alot Ayah..

Proposal juga sudah semakin fix. Riset desain sampai estimasi pengerjaannya InsyaAlloh sudah semakin siap. Yang pasti masih sangat butuh reading untuk memperkuat frame of reference-nya.. dan itu masih terus berproses. Kontak dengan para profesor di Unversitas yang kutuju, juga sudah beberapa kali aku lakukan.. dan responnya pastilah positif.

Tapi.. oh tapi..

Entah mengapa, aku belum merasa yakin benar ingin segera mewujudkannya. Ada banyak alasan untuk tidak terlalu terburu-buru, dan itupun sama berharganya untuk diperjuangkan.. Akka dan Okki, karir suamiku, kondisi kesehatan Ibuku jika aku pergi lama, dsb. Aku bisa sekolah kapan saja, tapi untuk orang-orang yang kusayangi, masa ini mgkn kali ini saja. Tuhan, aku tidak ingin jadi egois..

 

The touching pic..

Together Forever
Agah Djajadiredja's Picture

Lacks of self, boredom, fighting, getting old, misunderstandings, rich, or poor are merely an insignificant waves on the ocean of life that will not destabilize the sincerity of our love to always be together forever to wade it.

(My heart beats faster watching this one..)

28 tahun..

Hari yang dinanti dalam setahun tiba juga sekarang, 12 november.. entah mengapa masih saja ada ritual untuk menganggap hari itu penting. semacam hari sakral dimana segala sesuatu jadi berasa spesial. But anyway, is it really be that much special?

aku uring2an dari kemaren karena suamiku tidak bisa menemaniku melalui hari ini karena alasan yg kupikir klise, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Earrrgh.. sudah janji mau nemeni tapi malah ke Makasar. Dari kemaren juga sibuk bicara bertema ulang tahun dengan Akka. Bahkan argue.. siapa yang akan merayakan ulang tahun hari ini karena AKka pun insists ingin merayakan ulang tahun hari ini. What a funny!

Per hari ini usiaku genap 28 tahun. hohohoho.. 28 tahun means segera akan menjadi 30 tahun.. atau 3 tahun beranjak dari 25 tahun.. blah blah blah. But.. Sebegitu pentingkah takaran kuntitatif?? it’s not about number at all. actually! It isnt also about this day to celebrate..

Sesungguhnya aku tidak bnar2 merasa berulang tahun. Tidak merasa ada sesuatu yang harus dirayakan dengan gempita..  tidak merasa butuh diselamat oleh semua orang, langsung maupun di facebook.

Namun satu yang jelas kurasakan saat ini, aku sangat menikmati hari ini. Bukan karena semua simulakra yang ada.. tapi aku merasa sangat tersanjung menjadi point of attention, diantara teman-teman. (Ternyata hasrat itu ada juga padaku…) hehehe.. tiba2 semua orang menyapamu, mendoakanmu.. itu sungguh, menyenangkan. serasa kamu tiba2 menjadi orang yang dihargai banyak orang.. hehe, thanks temans.

Ps. Sssst, sebenernya aku lebih ingin diperhatikan suamiku.. hiks

Kehilangan seorang “guru”..

Ada rasa kehilangan yang sangat luar biasa ketika mendengar kabar meninggalnya Prof. Deddy Nur Hidayat siang itu. Tuhan, rasanya aku tak percaya. Baru beberapa hari sebelumnya aku mendapat konfirmasi tentang kondisinya yang semakin kritis akibat sakit kanker getah bening yang telah membuatnya dirawat di RSCM selama dua bulan. Selasa (9/11) tepat jam 13.15, seorang relasi mengabarkan tentang berpulangnya beliau ke Rahmatulloh.

Sesak hati karena duka. Teringat kembali masa-masa studi magister dulu, yang mana hampir setiap hari bersitatap dengan beliau, mengikuti kuliahnya selama beberapa bulan bahkan harus mengulang karena nilai yang kurang baik, menikmati canda dan kritikannya yang tidak selalu mudah dicerna, menikmati cara beliau “menguji” tesis atau desertasi temen-temen.. dan entah apa lagi. Segalanya masih terasa begitu lekat. Ingatan itu begitu menyata..

Pak Deddy, bukan sosok yang mudah untuk diakrabi. Namun entah bagaimana, kehadirannya begitu dekat. Aku tidak selalu bisa memahami penjelasan dalam kuliahnya yang memang cukup berat. Aku juga tidak bisa senantiasa memaknai setiap kritismenya dengan baik. Namun aku paham betul, beliau adalah sosok guru yang sangat hebat. Kemampuan analitisnya dalam ilmu yang dikuasainya sungguh luar biasa. Selalu menemukan celah dalam setiap riset yang diujinya. Seorang konstruktivis dan kritikus komunikasi yang sungguh langka di negeri ini. Entah deskripsi apa yang bisa menjelaskannya.

Namun ternyata, kesan tentang beliau tidak sedangkal itu dihatiku. Berguru memang proses yang luar biasa. Karena ketika kita menikmati pembelajaran dan pencerahan yang diberikan guru kita, bukan hanya ilmu saja yang terbagi. Tetapi juga amal dan budi, yang tentu saja tidak terukur sebanyak apapun materi. Ilmu, amal dan budi semcam bekal hidup, sehingga kita bisa berpijak menjadi diri kita yang sekarang, memahami realitas dengan pemaknaan yang telah terasah dengan ilmu, amal dan budi dari guru-guru kita. begitu juga aku merasa tentang Pak Deddy yang telah turut mengkonstruksi sebagian dari diriku saat ini. Rasa terima kasih sepertinya tidak cukup untuk kebaikan itu.

Kini beliau telah pergi. tidak akan ada lagi sosok Pak Deddy kapanpun nanti aku akan mengunjungi kampus Salemba lagi. Semoga Alloh menerangi jalan beliau sebagaimana beliau telah menerangi pemahaman semua muridnya, Amin.

Multitasking? can we?

belakangan ini banyak sekali hal yang harus kukerjakan.. sebagian karena kewajiban, sebagian karena peran dan sebagian karena keinginana. dalam sekali waktu aku bisa harus mengerjakan beberapa hal sekaligus, mulai menemani anakku bermain, sembari belajar, sembari membuat materi buat mengajar di keesokan paginya, memikirkan mengatur keuangan sampe menyelesaikan masalah-masalah remeh temeh rumah tangga–masalahnya pembantu misalnya. Pagi harinya juga sama, malah tambah repot.. mulai membujuk anak sekolah, memastikan anak-anak baik saat seharian kutinggal, mengajar, membimbing skripsi, tugas akhir, magang, bingung mau buat paper, mikir repositori, handle website jurusan, jurnal, pengabdian masyarakat sampe ngedaftar anak yang mau kompre. Wuihhh..

Seabrek kerjaan dalam waktu yang sikat, pastilah sulit. orang bilang kita harus bisa multitasking, mengerjakan semuanya bareng2.. ya, spertinya memang tidak ada pilihan lain. kalo dikerjakan satu-satu, pasti akan keteteran. semuanya menuntut harus maksimal, harus segera!

Tapi ternyata multitasking sangat sulit dilakukan. butuh konsentrasi yang sangat tinggi untuk bisa membagi pikiran mengerjakan banyak hal. Rasa2nya kemampuan otak harus di push sampai tahap maksimal upload dan maksimal download, terutama untuk bidang pekerjaanku. walhasil.. dengan ekstra usaha seperti itu, yang ada tubuh cepat lelah. terutama pikiran..  sepertinya cepat jenuh.

Mungkin yang kubutuhkan adalah menyesuaikan ritme. menyiasati agar bisa multitasking dengan ringan. manajemen waktu, manajemen pikiran. juga manajemen fisik (olah raga!) biar bisa tetep optimal di pekerjaan maupun di rumah, eaghhhhh, semoga aku bisa!